Kematian Menurut Ideologi Sains Modern dan Menurut Pemikiran Eksistensialisme Heidegger
Sumber: Net
12
Sekilas
saat melihat gambar diatas, kita mungkin akan senyum-senyum tipis atau mungkin
tertawa karena merasa aneh bahwa ada orang yang menginginkan kematian. Perasaan
aneh ini kemungkinan disebabkan oleh ideologi sains modern yang sudah tak asing
lagi bagi kita.
Ideologi sains
modern menganggap kematian seolah-olah merupakan ketidaksempurnaan dan
kenihilan hidup manusia. Maka dari itu, muncullah argumen transhumanisme
seperti "suatu saat kesadaran manusia akan dipindahkan ke mesin.",
sebisa mungkin teknologi bisa memanjangkan umur manusia atau mencegah kematian,
dan lain sebagainya. “Kalo manusia mati, ya udah kosong aja”, mungkin itu yang
disuarakan oleh ideologi sains modern tentang kematian jika diterjemahkan ke
dalam bahasa sehari-hari. Padahal, belum tentu juga orang-orang pengen hidup
lama. Kalo manusia hidup abadi, paling manusia mati karena saling bunuh atau
bundir.
Hal
tersebut, sangat bertentangan dengan pemikir eksistensialisme, yaitu Martin Heidegger.
Kalo kata Bapak Heidegger, kematian merupakan bentuk paling otentik dari
eksistensi manusia. Kalo kita hidup selamanya, ga mati-mati, ya hidup ini akan kosong-kosong
aja. Berlawanan bukan? Dengan ideologi sains modern?
Maksud dari
Bapak Heidegger tuh seperti ini, kita selalu cemas akan kematian, maka dari itu
kita berlomba-lomba agar menjadi otentik. Bukan takut akan kematian ya, tapi
cemas. Kalo takut akan kematian mah ada objeknya, udah terduga kapan matinya,
dsb. Beda sama cemas, karena kematian tidak terduga, maka dari itu kita cemas.
Salah satu
contoh cemas akan kematian, yaitu makan. Saat lapar, kita makan untuk bertahan
hidup. Dengan bertahan hidup, itu merupakan bentuk kecemasan kita akan
kematian. Kita sadar bahwa suatu saat akan mati, berarti kita harus memaknai
hidup ini. Dengan makan, kita sudah memaknai hidup. Kita memaknai bahan
makanan, sebagai sesuatu yang bisa kita makan.
Balik lagi ke otentisitas, kita memaknai hidup ini dengan menulis thread di twitter, mengirim karya tulisan ke BEM FPMIPA, membuat video di youtube, melakukan sesuatu yang akan diingat oleh teman-teman kita, dsb. Hal tersebut kita lakukan agar kita menjadi otentik. Namun, bentuk paling otentik dari eksistensi manusia, yaitu mati. Maka dari itu, kematian bagi Heidegger tidak dilihat sebagai kejadian empiris, melainkan otentisitas dari eksistensi. Kalo kita hidup selamanya, ya gitu-gitu aja, seakan-akan tidak ada maknanya. Hidup ini bermakna, justru karena kita akan mati. Maka dari itu, tak heran bila si kakek, dalam gambar di atas, menginginkan kematian.
Comments
Post a Comment