Simbol dalam Kehidupan Sehari-hari

Pernahkah merasa tidak nyaman berkomunikasi dalam suatu kelompok orang tertentu? Pernahkah enggan ke restoran mewah yang menyajikan makanan asing karena tidak tahu cara memesan makanan di restoran tersebut meskipun uangmu cukup atau bahkan lebih untuk makan disana?  Atau pernahkah melihat orang-orang pamer iphone di internet yang dengan bangganya memperlihatkan gambar apel pada hpnya dan tak jarang juga menempatkan posisi mereka lebih atas dengan pengguna hp dengan sistem android? Semua fenomena tersebut sangat lekat sekali dengan simbol.

Simbol adalah  tanda yang dikaitkan pada sesuatu yang berisi gagasan atau objek. Tanda pada simbol, bisa berupa apa pun, contohnya gambar yang melekat pada sesuatu. Misalnya simbol ini.

Simbol tersebut tidak akan bermakna apa-apa, jika sebagaimana hanya dilihat apa adanya. Gambar tersebut merupakan persegi panjang yang bewarna putih dan warna dasarnya merah. Namun, simbol tersebut akan berarti, jika ditempatkan pada suatu tempat tertentu misalnya di gerbang, portal, dan lain sejenisnya, yang mana simbol tersebut bermakna dilarang masuk. Jadi, suatu tanda harus dikaitkan dengan sesuatu agar bermakna.

Sering kali, tanda pada simbol hanya dipahami sebagai gambar saja. Tanda pada simbol tidak sesempit hanya gambar, bisa berupa cara berpakaian, cara berkomunikasi atau berinteraksi, gerakan tubuh, status sosial, kekayaan, suatu tempat, dan lain sejenisnya. Sehingga simbol ada di kehidupan sehari-hari kita.

 

Simbol dalam Interaksi Sehari-hari

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, simbol bisa berupa cara berbicara, cara berpakaian, raut wajah, dan lain sejenisnya yang mana aspek-aspek tersebut adalah beberapa faktor-faktor penunjang interaksi.

Dalam kajian simbol atau semiologi/semiotika, interaksi merupakan bentuk dari pertukaran simbol yang dimiliki antarindividu atau individu dengan lingkungannya. Jika simbol yang dipertukarkan sebanding, maka interaksi akan berjalan dengan baik. Misalnya, orang dengan status kelas atas, makan di restoran fine dining. Terlihat bahwa orang tersebut  sangat menikmati makanannya, suasana retorannya, dsb. Kenyamanan tersebut, didapatkan dari pertukaran simbol yang setara.

Berbeda jika gelandanganlah yang makan di restoran mewah, simbol pada dirinya dengan ruang yang ditempatinya tidak setara pertukarannya. Ruang tersebut hanya akan mengintimidasinya atau bahkan menindasnya. Sehingga akan muncul ketidaknyamanan untuk makan di tempat tersebut.

Dalam kasus lain, pertemanan sering kali membentuk suatu sirkel-sirkel tertentu yang mana, individu-individu pada sirkel tersebut saling menukarkan simbol yang setara. Maka dari itu, pertemanan pada sirkel tersebut terlihat solid. Jika ada individu yang tidak menukarkan simbolnya dengan setara, kemungkinan individu tersebut akan merasa tidak nyaman jika terus bertahan dalam sirkel tersebut. Sama halnya dengan kasus gelandangan di restoran mewah.

Fenomena canggung saat mengobrol kembali dengan teman yang sudah lama tidak berhubungan lagi saat bertemu kembali, juga merupakan persoalan pertukaran simbol yang tidak setara. Individu mengalami pengalaman baru tiap saat, yang mana, ada pertukaran simbol di tiap pengalaman baru tersebut, sehingga simbol yang dimiliki oleh individu tersebut berubah. Maka dari itu, bisa saja yang dulunya satu sirkel dan satu simbol dengan teman lama, malah jadi malu-malu dan canggung tidak tahu harus berinteraksi sebagaimana nyamannya.

 


Konsumsi Simbol

Di internet tak jarang bersliweran orang-orang yang memperlihatkan pakaian yang dipakainya, mobil baru, smartphone yang dimiliki, bukti akan kepemilikan suatu aset, dan lain sebagainya. Biasanya hal yang diperlihatkan tersebut merupakan hal yang mewah dan tak semua orang bisa memilikinya. Misalnya memperlihatkan gelas kopi di cafe mahal, memakai baju hypebeast, mengoleksi tanaman hias atau figur dari serial ternama, dan lain sebagainya. Berdasarkan pemikiran Jean Baudrillard, fenomena tersebut  disebut konsumsi simbol.


Baju hypebeast, smartphone, dan lain sejenisnya yang dipakai atau dikonsumsi bukan lagi terkait nilai gunanya, melainkan merknya atau simbolnya. Hal tersebut dilakukan, agar si pengonsumsi produk tersebut merasakan kepuasan atau kebanggan atas kepemilikan yang memberikan pandangan atau wibawa tertentu. Itu sebabnya, memiliki smartphone bermerk iPhone, dipandang sebanding dengan status sosial tertentu.


Namun, jarang sadari, bahwa bentuk akan kebanggaan memiliki produk dengan merk ternama tersebut diciptakan oleh merk tersebut. Seolah-olah dengan memiliki produk mewah tertentu, si pengonsumsi merasa dirinya ekslusif atau otentik, tetapi, dia tidak sadar keekslusifannya itu dibentuk oleh kapital(isme).

Itu saja tulisan tentang simbol, simbol itu luas, tidak hanya seperti yang dituliskan di atas saja. Jika tertarik dengan kajian tentang simbol, cobalah pelajari semiologi/semiotika.

Comments

Popular posts from this blog

Sunda Empire Berdasarkan Episteme Foucault